Selasa, 10 November 2009

Sabtu, 24 Oktober 2009


Malam ini aku mengaji lagi setelah kurang lebih seminggu lamanya tidak mengaji. Pengajian tidak berlangsung lama karena guru besarku menemui tamu-tamunya yang datang ketika pengajian sedang berlangsung. Nothing special in majlis, mungkin hal ini yang membuatku suntuk.

Jam menunjukan pukul Sembilan kurang, padahal aku baru datang kurang lebih sepuluh menit sebelum pengajian berakhir. Telat dalam majlis hal biasa bagiku. Yang biasa menyebabkan aku telat mungkin TV atau something yang membuatku mentelat-telatkan waktu mengaji.

Opera Van Java, rasanya aku tidak mau melihat semua pemainnya berada di neraka. Propesi pelawak adalah propesi yang buruk bagi agama. Propesi ini menjauhkan manusia akan mengingat Allah. Ha’ah, zaman-zaman. Padahal lawakan itu hanya bagus dan berpahala ketika kita sedang berusaha menyenangkan orang yang sedang mengalami kesedihan. Bukan untuk mencari uang atau sekedar menghibur orang secara fiktif, tidak di ketahui siapa yang diberi lawakan.

Karena rasanya tidak afdol bila langsung pulang, aku ke kobong santri sebentar. Aku mengobrol dengan teman-temanku di kobong. Ha’ah, rasanya harus beradaptasi lagi bila lingkungannya seperti ini. Satu, dua, tiga, empat. Empat orang berada di kobong yang sekarang sedang ku tempati. Tentu bila denganku menjadi lima orang yang berada di kobong. Dua orang adalah mahasiswa STIE, satu orang adalah mahasiswa IAIN Serang, dan satu lagi seorang guru madrasah yang usianya lebih tua satu hari denganku.

Hmm…, aku mengerutkan kening. Rasanya aku penarasan dengan luka yang menempel pada Rohi (guru madrasah). Ku tanyakan sebab dia terluka. Dia menjawab bahwa lukanya itu akibat terjatuh dari motor.

Ku ledek saja langsung, “Ore bise ngegawe motor, aje ngegawe motor hi”.

“Namanya juga baru belajar, gus”, katanya melawan ledekanku. Memang rasanya senang bila meledek orang meskipun ku tahu secara syariat salah. Ku sugestikan diriku bahwa inilah aku, manusia zaman akhir yang penuh kemunafikan.

Saiful qulub adalah salah satu teman mahasiswaku dari STIE yang pada waktu itu berada di kobong. Aku dan dia jarang bertemu di pengajian. Ketika dia tahu bahwa komputerku memasang speedy dan aku ingin pulang, dia memintaku membantunya untuk mencari sebuah artikel dari The Jakarta Post. Wah, Koran bahasa inggris.

Sampai rumah aku mengobrol lagi dengannya. Komputerku kunyalakan. Kini, stanby dengan connect internet. Bahan yang ingin Ipul cari pun ku browsing. Tentu tak menunggu lama, koran The Jakarta Post tampil dalam layar window komputerku. Edit-edit sedikit, print dan selesai.

“Jadi ngeropotin”, katanya merendah.

“Memang ngerepotin, pake bilang lagi”, entah sopan atau tidak diriku yang pasti kita berdua tertawa karena guyonanku yang belak-belakan di repotkan olehnya.

“Wah, sering buka yang begituan yah?”, tanyanya.

“Pastilah. Di rumah ini yang bisa pegang komputer dan internet hanya aku doang”, jawabku.

“Adi?”, dia menanyakan perihal adik terbesarku.

“Dia jarang memakai komputer, tahu sendiri dia sering tidur di pondok”, jawabku.

“Kamu sama dia beda yah”, pendapatnya tentang kami berdua.

“Apanya yang beda. Sama ahh…”, ku menanggapi.

“Adi mah sering tidur di pondok, lah kamu?”

“Ku pernah tidur di pondok, tapi rasanya tidak enak disana. Ada Sesuatu yang bikin ku kurang mood disana, tidak selepas di rumah. Tau nggak, di keluarga ini, yang mungkin membuat dosa terbesar itu, ya diriku ini. Nggak kan ku biarkan adikku memegang internet deh, bahaya. Banyak mudorotnya. Cukup kakaknya saja yang hancur”.

“Eh, kalau sudah tujuh kali bikin hal yang negative bisa ketahuan loh”

“Apa yang ketahuan, file bokepnya? Tenang saja. Yang bisa connection internet tuh cuman ku doang, lagi pula nyimpennya di tempat yang mungkin sering terlihat. Tempat teraman bukankah di tempat yang paling berbahaya. Haha…”.

“Sekarepmulah”.

“Haha…”, rasanya tawaku menandakan riangnya syetan pada diriku. Dia berhasil membawa wabah kemaksiatan padaku. Ya, wabah kemaksiatan pada zaman edan yang di penuhi wanita-wanita edan pula. Wanita sekarang memang bisa dikatakan lebih pintar dari pria. Itu semua tidak jauh dari kemaksiatan yang mudah saja diterima oleh sang pria dari sang wanita yang mengakibatkan sang pria tidak mudah menyerap ilmu. Imam safi’I pernah kehilangan hafalanya hanya gara-gara melihat betis seorang wanita. Bisa di bayangkan dengan pria-pria sekarang yang jauh dari keimanan setinggi imam safi’i. Makin banyak wanita yang berakhlak buruk, makin banyak lagi wanita dan pria yang di hasilkan olehnya dengan kualitas terburuk juga. Allahu akbar. Pria dan wanita memang saling berpotensi menghancurkan zaman, entah secara langsung atau tidak langsung.

Akhirnya dia pulang. Santai, yah hari ini harus santai lagi. Ku buka layar televisi dan sedikit merebahkan badanku. Mr and Mrs Smith, waw. Film yang sangat bagus. Jalan ceritanya begitu mengalir dari awal sampai akhir. Film ini seingatku di tayangkan mulai jam setengah sepuluh. Sayang bagiku karena tidak dapat menonton full version nya. Ku tahu keadaan awal, karena di ending dia (film ini) secara tidak langsung menceritakan keadaan di awal.